24 Januari 2014: Oh Edelweisku..

  • 0



Kehidupan...
Abstrak sekali jika kita membahas suatu hal tentang kehidupan. Manusia-manusia berkumpul dalam suatu rumah, itulah bumi. Saya, dia, anda dan mereka pastilah saudara. Eyang dari segala eyang yang ada sebagaimana kita tahu Adam sang manusia pertama. Bagaimana dengan manusia kedua, Hawa. 

Jari-jari saya kali ini bingung meletakkan dimana ujung-ujungnya akan berlabuh. Seakan kebingungan menguntai kata. Adakah sesuatu di dunia ini yang berkata iya satu dan selamanya?!

Itulah keabadian, sesuatu yang diidam-idamkan manusia dalam beberapa skenario perfilman. Mimpi manusia klasik akan kehidupan yang tak akan termakan oleh banyaknya jumlah usia.

Namun di bumi manusia sesungguhnya, hanya dimiliki oleh rangkaian bunga edelweis lah kehidupan tanpa celah itu. Tumbuh jauh dari kata layu menghiasi panorama di ketinggian pegunungan. Menjadi saksi bisu para pendaki yang haus akan keindahan. Oh edelweisku..


22 Desember 2013: Tulislah..

  • 0


Ini sejatinya adalah blog kedua saya. Blog yang pertama dibuat ketika saya masih duduk di bangku SMP, dan hanya iseng saja perihal isinya. Namun blog yang kedua ini lebih intim dalam mengutip masalah-masalah di sekeliling saya, termasuk pada diri saya pribadi.

Mengisahkan berbagai perjalanan yang pernah saya alami. Mungkin tidak semua kisah hidup saya saya tuliskan disana. Kebanyakan adalah kejadian-kejadian yang secara emosional menggelitik pribadi saya. Blog ini adalah sarana penyalur kegelisahan-kegelisahan yang sedang terjadi pada setiap inti perjalanan hidup saya.

Terkadang pemikiran optimisme, sarkasme, segala harapan yang kesemuanya saling berkorelasi dapat menjadi inspirasi dalam segala tindak tanduk manusia tidak terkecuali pada diri kita masing-masing.
Berbagai alasan saya gunakan untuk menulis berbagai hal yang mungkin cemen bagi pandangan orang lain.

Pramoedya Ananta Toer pernah bertutur dalam salah satu bukunya yang berjudul Rumah Kaca bahwa "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah".

Jika kita ingat bahwa bangsa Cina juga menjadi bangsa yang besar, bangsa yang mampu belajar dari ilmu yang nenek moyang mereka tinggalkan, darimana ilmu itu mereka ketahui? Peninggalan tak ternilai berupa catatan-catatan yang leluhur mereka tuliskan dalam gulungan perkamen.

Salah satu ungkapan seorang Imam besar dari umat Islam, yaitu Imam Ali juga pernah mengatakan "ikatlah ilmu dengan menuliskannya".

Bacalah, maka kita akan tahu
-
Belajarlah, maka kita akan mengerti
-
Tulislah, maka orang akan membaca dan belajar dari apa yang kita tahu dan mengerti

12 Desember 2013: Kala Hujan Datang..

  • 0
Hujan ini datang dari Tuhan

Untuk membasahi jiwa-jiwa kekeringan

Yang sedang berpangku tangan

Memandang jauh pada awan

Mengisyaratkan sebuah kerinduan

Kasih sayang yang pernah terkekang

Oleh dimensi angka satuan

Sejenak ku menengadah tangan

Mengumpulkan tetes-tetes hujan

Masih maniskah kamu seperti dahulu ?

Ketika tersenyum dalam dekapku

Terasa hangat makin mesra

Kubalas senyummu itu

Hanya ada kita berdua

Yang tak ingin beranjak dari Cinta

6 Desember 2013: Kunjungan Rumah Sakit

  • 0



Hari besar jumat kali ini saya membuka hari dengan mengunjungi rumah sakit. Ini adalah salah satu jadwal rutin mahasiswa kedokteran, khususnya di fakultas tempat saya menuntut ilmu. Sebelum berangkat ke rumah sakit Dr. Soetomo, kami, kelompok PBL yang beranggotakan 13 orang berkumpul dahulu di depan sebuah kantor yang tak jauh dari sebuah kolam ikan yang sebenarnya tidak ada ikannya bahkan mungkin tukang kebunnya sendiri sudah lupa kapan ia terakhir mengurasnya. Di sana kami harus bertemu dokter yang mengantarkan kami ke poli tujuan kami, dan tentunya menulis absen sebagai tanda nampaknya batang hidung kami.
-
Perjalanan ke rumah sakit pun dimulai tepat pukul 09.00. Riuh ricuh mahasiswa-mahasiswa muda berbincang mewarnai langkah demi langkah kami untuk mengunjungi pasien-pasien di rumah sakit. Sejatinya tidak hanya kelompok saya saja yang hari ini mengunjungi rumah sakit, setidaknya ada 4 kelompok yang mengunjungi poli yang berbeda pula. Satu persatu kelompok lain memisahkan diri dari rombongan pertanda mereka telah sampai di poli tujuan mereka.
-
Singkat cerita, kelompok kami pun tiba di poli tujuan kami. Poli Obsgyn alias Obstetri dan Gynekologi, tepatnya kami kala itu berdiri di dalam kamar bersalin IRD. Saat itu kami harus melepas sepatu-sepatu kami untuk bisa masuk kedalam ruangan. Ketika pertama kali membuka pintu hiruk pikuk manusia dengan berbagai kepentingan nampak memukau indra penglihatan saya. Ada orang-orang yang memakai jas putih, ada beberapa perempuan yang memakai topi putih dengan pakaian dan celana yang berwarna putih pula, ada ibu-ibu yang memakai  batik, ada juga beberapa ibu-ibu yang sedang berbaring di kasur yang perutnya berukuran lebih besar dari biasanya.
-
Seorang laki-laki berjas putih dengan kisaran usia tiga puluh tahunan menghampiri dan menyapa kami dengan senyum. Beliau adalah dokter yang dijuluki “lurah” di ruangan tersebut, kemungkinan besar dia adalah sosok yang bertanggung jawab dengan segala kegiatan yang ada di sana. Kami langsung dipertemukan oleh dosen yang akan mengampu kami untuk bertemu salah satu pasien di sana. Sebelum menemui pasien kami diberikan beberapa pertanyaan olehnya. Sungguh sesi ini adalah salah satu sesi yang paling mendebarkan dalam kunjungan rumah sakit kali ini.
Setelah selesai umpan mengumpan pertanyaan dan jawaban dengan dokter tersebut, tibalah masa kami untuk bertemu seseorang. Seorang perempuan paruh baya yang terbaring lemah di kasur peristirahatan dengan diselimuti sepotong kain batik coklat. Kain yang diselimutkan ke tubuh sang Ibu untuk menghangatkan diri serta menghangatkan “seseorang” lagi yang ada di dalam rahimnya. Kami pun menyapanya, dengan maksud untuk menyambung rasa dengan ibu tadi.
Setelah percakapan terasa lebih hangat dari dinginnya mesin ac di ruangan itu kami pun memberanikan diri untuk meminta izin untuk memeriksa usia dan posisi janin dalam kandungan ibu tadi, leopold nama pemeriksaan tersebut. Dengan kagok satu persatu kami mempraktekannya. Bagaimana tidak, sebelumnya kami hanya berkesempatan mempraktekan leopold pada boneka saja. Ternyata sungguh berbeda dengan keadaan aslinya.
-
Tibalah giliran saya untuk mencoba ilmu leopold yang pernah saya ketahui. Saya mulai dengan mengukur tinggi rahim bagian atas, lalu meraba tepi-tepi rahim, kemudian merasakan bagian tubuh mana yag sudah berada di bagian bawah rahim sang Ibu. Kikuk rasanya jari-jemari saya mengitari perut sang Ibu. Entah kenapa rasanya tidak seperti yang saya ketahui dalam kehamilan normal. Setelah memastikan apa yang ada di hadapan saya saat itu, kemudian saya melontarkan pertanyaan pada dokter pengampu tadi.
-
Yak ternyata, sungguh keajaiban Allah sang Maha Pemberi. Sang Ibu ternyata bukan hanya mengandung “seseorang” namun beliau akan bertemu dengan “dua orang” jagoan kecil harapan keluarga. Ini adalah salah satu pengalaman yang tak akan saya lupakan dalam menapaki jenjang ilmu kesehatan. Pertama kali me-leopold pasien hamil, langsung menemukan hal yang sangat jarang terjadi pada umumnya. Sebelum mengakhiri giliran leopold, saya mengelus “kedua” janin yang berada dalam kandungan sang Ibu seraya mengucapkan sebuah kalimat,” Adek-adek, Semoga lahir sehat dan nanti jadi dokter ya”. Sang ibu yang tadinya tebaring lunglai pun melontarkan senyum dan mengamini doa saya.
-
Dua calon bayi yang nantinya akan tumbuh memuai dan bertambah tinggi, pula berkembang menyusul kita para pemuda untuk menjadi pemuda-pemuda berikutnya. Pemuda-pemuda generasi penerus yang akan mengisi barisan yang masih belum terisi. Pemuda yang akan menjunjung etika dan moral, pemuda cerdas berakhlak mulia, pemuda yang akan memikul nama keluarga, bangsa dan negara.
-
Inilah siklus kaderisasi, siklus yang tak kan pernah berhenti. Tak akan berhenti sebelum sang Maha Tahu berfirman untuk mengakhiri.  

---

22 November 2013: Ternyata hanya

  • 0


Diam tenang berdiri di pertengahan
Menggelitik awan yang sedang menurunkan hujan
Lampu kota masih menerangi jalanan hitam kelam
Cahaya bulan seakan tertawa menusuk
Sesak terhimpit akan sebuah jawaban itu
Merasa diri dikerubungi semut hitam
Berjalan pelan namun menyakitkan hati
Hanya keindahan yang pernah dinikmati
Tak dapat kembali
Laksana lontaran peluru menembus segalanya
Menghidupkan boneka suatu hal yang sia-sia
Sembari mata mengikuti arah pulang burung-burung
Ternyata aku hanya diam tenang berdiri di pertengahan


22 November 2013 : Aku adalah Aku

Perlahan terdengar suara nyanyian burung kecil di pagi hari
Dua kelopak mata mengangkat membuka pandangan padang terang
Lentiknya jari jemari bergerak menari kecil menghangatkan akral
Angin berhembus dari kedalaman dada menyentak terasa di penghujung hidung

Kulihat diriku dari dalam cermin fatamorgana
Rapuh kelam terlihat kusam menyeka keringat yang bercucuran
Padahal akulah orang dengan banyak keinginan
Akulah sesosok orang dengan banyak harapan

Aku ingin menyentuh garis batas merah merona cakrawala seputar dunia
Aku ingin menyentuh ujung warna-warni pelangi yang tak menyentuh bumi
Aku inging menjadi beribu hal yang kuinginkan
Aku adalah Aku



4 November 2013: Peradaban Kuno

  • 0

Hati ini masih belum terbiasa rupanya, sepi dan sendiri. Beberapa cara saya coba untuk membunuh waktu yang kian lama berputar makin cepat. Memejamkan kedua kelopak mata seraya menghentikan sejenak pikiran yang sangat melelahkan. Seakan-akan membiarkan mimpi jauh membawa diri ini pergi ke bahteranya.
-
Akhirnya saya memberanikan diri untuk kembali berkomunikasi dengan”nya”. Hal pertama yang saya ungkapkan adalah sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang ingin saya utarakan untuk menghentikan semua pikiran kotor yang muncul dalam kepala saya. Pikiran kotor akan ketidak adilan, kesia-sian, juga kehampaan.
-
Ketika itu saya bertanya alasan kenapa dia ingin beranjak pergi dari hubungan jarak jauh ini. Mungkin saya terkesan sebagai seseorang yang arogan. Namun rasa ingin tahu saya mengatakan bahwa disini hal-hal emosional seperti itu sah-sah saja untuk diungkapkan, hanya demi mendapatkan rasa lega. Saya juga bertanya kenapa dia menerima saya pada awalnya jika ternyata masih di awal-awal perjalanan saja tak tahan dengan cinta yang saling berjauhan. Saya juga bertanya apakah dia masih ingat janji awal dulu bertemu. Dan pertanyaan yang paling penting ketika saya bertanya apa rasa sayang itu masih ada ketika dia memutuskan untuk berhenti membina long distance relationship ini.
-
Terasa sekali sayap-sayap satu perastu hilang dari punggung ini.
-
Apa dan kenapa masih saja menjadi 2 kata tanya yang berhantu bagi saya. Meski jawabannya sedikit melegakan “hati yang terlanjur basah” ini, namun keinginan untuk beranjak dari zona nyaman itu masih belum tereksitasikan dengan sempurna. Intinya saya masih belum bisa beranjak dari kenyamanan-kenyamanan yang pernah dia berikan dahulu.
-
Ketika kegelisahan-kegelisahan ini saya tuliskan, saat itu pula saya memikirkan sebuah pepatah jawa kuno. Ya anda pasti pernah mendengar, barangkali seringpula diucapkan, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”, Cinta itu timbul karena sering bertemu.
-
Ketika dua hati itu saling berjauhan, sangat sedikit kesempatan yang mereka dapatkan untuk mengetahui kegiatan satu sama lain, untuk mengenal lebih dekat satu sama lain, juga untuk memahami perasaan lebih dalam satu sama lain. Anda tentu boleh menampik jikalau era globalisasi ini telah terhiasi oleh berbagai cara dan alat komunikasi. Sebuah alat yang katanya bisa menghilangkan jarak antar dua orang.
-
Cinta hanyalah cinta. Sebuah rasa yang diciptakan Sang Khalik dan dianugerahkan pada dua nenek moyang kita. Peradaban paling kuno dari segala peradaban yang ada. Sebuah telepati yang mampu mempertemukan kembali adam dan hawa di atas hamparan bumi yang teramat luas. Peradaban yang ternyata tidak mampu ter-modern-isasi oleh komunikasi global saat ini.
-
Kipas angin berukuran mungil yang memenuhi kamar saya masih belum berhenti berputar. Berharap hal itu juga terjadi pada perjalanan – perjalanan retorika ke depan saya.  Janganlah berhenti berputar di sini kawan. Keep moving on pada mimpi-mimpimu yang belum terealisasikan. Ya lelah ini hanya sebentar saja, bukankah sedih juga sering kita alami ? bicara saya pada diri sendiri...
-
Iringan lagu dengan chord-chord aneh dari Queen mensyaduhkan Senin malam ini. Ketika otak baru saja selesai tercurahkan pada ujian Farmakologi, segar rasanya mendengar nada-nada tinggi Love of My Life yang baru saja dilantunkan Freddy Mercury. Mantra-mantra untuk mengundang kembali cinta yang baru saja pergi. Betapa syahdunya...

Love of my life,
You hurt me,
You broken my heart,

Now you leave me


Love of my life can't you see,

Bring it back bring it back,

Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me


Love of my life don't leave me,

You've stolen my love you now desert me,
Love of my life can't you see,

Bring it back bring it back,
Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me


You will remember when this is blown over,

And everything's all by the way,

When I grow older,
I will be there at your side,
To remind how I still love you
I still love you
I still love you


Hurry back

hurry back,


Don't take it away from me,

Because you don't know what it means to me
Love of my life,

Love of my life