Hari besar jumat kali ini saya membuka hari dengan
mengunjungi rumah sakit. Ini adalah salah satu jadwal rutin mahasiswa
kedokteran, khususnya di fakultas tempat saya menuntut ilmu. Sebelum berangkat
ke rumah sakit Dr. Soetomo, kami, kelompok PBL yang beranggotakan 13 orang
berkumpul dahulu di depan sebuah kantor yang tak jauh dari sebuah kolam ikan
yang sebenarnya tidak ada ikannya bahkan mungkin tukang kebunnya sendiri sudah
lupa kapan ia terakhir mengurasnya. Di sana kami harus bertemu dokter yang
mengantarkan kami ke poli tujuan kami, dan tentunya menulis absen sebagai tanda
nampaknya batang hidung kami.
-
Perjalanan ke rumah sakit pun dimulai tepat pukul 09.00.
Riuh ricuh mahasiswa-mahasiswa muda berbincang mewarnai langkah demi langkah
kami untuk mengunjungi pasien-pasien di rumah sakit. Sejatinya tidak hanya
kelompok saya saja yang hari ini mengunjungi rumah sakit, setidaknya ada 4
kelompok yang mengunjungi poli yang berbeda pula. Satu persatu kelompok lain
memisahkan diri dari rombongan pertanda mereka telah sampai di poli tujuan
mereka.
-
Singkat cerita, kelompok kami pun tiba di poli tujuan kami.
Poli Obsgyn alias Obstetri dan Gynekologi, tepatnya kami kala itu berdiri di
dalam kamar bersalin IRD. Saat itu kami harus melepas sepatu-sepatu kami untuk
bisa masuk kedalam ruangan. Ketika pertama kali membuka pintu hiruk pikuk
manusia dengan berbagai kepentingan nampak memukau indra penglihatan saya. Ada orang-orang
yang memakai jas putih, ada beberapa perempuan yang memakai topi putih dengan
pakaian dan celana yang berwarna putih pula, ada ibu-ibu yang memakai batik, ada juga beberapa ibu-ibu yang sedang
berbaring di kasur yang perutnya berukuran lebih besar dari biasanya.
-
Seorang laki-laki berjas putih dengan kisaran usia tiga
puluh tahunan menghampiri dan menyapa kami dengan senyum. Beliau adalah dokter yang
dijuluki “lurah” di ruangan tersebut, kemungkinan besar dia adalah sosok yang
bertanggung jawab dengan segala kegiatan yang ada di sana. Kami langsung
dipertemukan oleh dosen yang akan mengampu kami untuk bertemu salah satu pasien
di sana. Sebelum menemui pasien kami diberikan beberapa pertanyaan olehnya.
Sungguh sesi ini adalah salah satu sesi yang paling mendebarkan dalam kunjungan
rumah sakit kali ini.
-
Setelah selesai umpan mengumpan pertanyaan dan jawaban
dengan dokter tersebut, tibalah masa kami untuk bertemu seseorang. Seorang
perempuan paruh baya yang terbaring lemah di kasur peristirahatan dengan
diselimuti sepotong kain batik coklat. Kain yang diselimutkan ke tubuh sang Ibu
untuk menghangatkan diri serta menghangatkan “seseorang” lagi yang ada di dalam
rahimnya. Kami pun menyapanya, dengan maksud untuk menyambung rasa dengan ibu
tadi.
-
Setelah percakapan terasa lebih hangat dari dinginnya mesin
ac di ruangan itu kami pun memberanikan diri untuk meminta izin untuk memeriksa
usia dan posisi janin dalam kandungan ibu tadi, leopold nama pemeriksaan
tersebut. Dengan kagok satu persatu kami mempraktekannya. Bagaimana tidak,
sebelumnya kami hanya berkesempatan mempraktekan leopold pada boneka saja. Ternyata
sungguh berbeda dengan keadaan aslinya.
-
Tibalah giliran saya untuk mencoba ilmu leopold yang pernah
saya ketahui. Saya mulai dengan mengukur tinggi rahim bagian atas, lalu meraba
tepi-tepi rahim, kemudian merasakan bagian tubuh mana yag sudah berada di
bagian bawah rahim sang Ibu. Kikuk rasanya jari-jemari saya mengitari perut
sang Ibu. Entah kenapa rasanya tidak seperti yang saya ketahui dalam kehamilan
normal. Setelah memastikan apa yang ada di hadapan saya saat itu, kemudian saya
melontarkan pertanyaan pada dokter pengampu tadi.
-
Yak ternyata, sungguh keajaiban
Allah sang Maha Pemberi. Sang Ibu ternyata bukan hanya mengandung “seseorang” namun
beliau akan bertemu dengan “dua orang” jagoan kecil harapan keluarga. Ini adalah
salah satu pengalaman yang tak akan saya lupakan dalam menapaki jenjang ilmu
kesehatan. Pertama kali me-leopold pasien hamil, langsung menemukan hal yang sangat
jarang terjadi pada umumnya. Sebelum mengakhiri giliran leopold, saya mengelus “kedua”
janin yang berada dalam kandungan sang Ibu seraya mengucapkan sebuah kalimat,” Adek-adek,
Semoga lahir sehat dan nanti jadi dokter ya”. Sang ibu yang tadinya tebaring
lunglai pun melontarkan senyum dan mengamini doa saya.
-
Dua calon bayi yang nantinya akan tumbuh memuai dan
bertambah tinggi, pula berkembang menyusul kita para pemuda untuk menjadi
pemuda-pemuda berikutnya. Pemuda-pemuda generasi penerus yang akan mengisi
barisan yang masih belum terisi. Pemuda yang akan menjunjung etika dan moral,
pemuda cerdas berakhlak mulia, pemuda yang akan memikul nama keluarga, bangsa
dan negara.
-
Inilah siklus kaderisasi, siklus yang tak kan pernah berhenti. Tak akan
berhenti sebelum sang Maha Tahu berfirman untuk mengakhiri.
---


Tidak ada komentar:
Posting Komentar