6 Desember 2013: Kunjungan Rumah Sakit

  • 0



Hari besar jumat kali ini saya membuka hari dengan mengunjungi rumah sakit. Ini adalah salah satu jadwal rutin mahasiswa kedokteran, khususnya di fakultas tempat saya menuntut ilmu. Sebelum berangkat ke rumah sakit Dr. Soetomo, kami, kelompok PBL yang beranggotakan 13 orang berkumpul dahulu di depan sebuah kantor yang tak jauh dari sebuah kolam ikan yang sebenarnya tidak ada ikannya bahkan mungkin tukang kebunnya sendiri sudah lupa kapan ia terakhir mengurasnya. Di sana kami harus bertemu dokter yang mengantarkan kami ke poli tujuan kami, dan tentunya menulis absen sebagai tanda nampaknya batang hidung kami.
-
Perjalanan ke rumah sakit pun dimulai tepat pukul 09.00. Riuh ricuh mahasiswa-mahasiswa muda berbincang mewarnai langkah demi langkah kami untuk mengunjungi pasien-pasien di rumah sakit. Sejatinya tidak hanya kelompok saya saja yang hari ini mengunjungi rumah sakit, setidaknya ada 4 kelompok yang mengunjungi poli yang berbeda pula. Satu persatu kelompok lain memisahkan diri dari rombongan pertanda mereka telah sampai di poli tujuan mereka.
-
Singkat cerita, kelompok kami pun tiba di poli tujuan kami. Poli Obsgyn alias Obstetri dan Gynekologi, tepatnya kami kala itu berdiri di dalam kamar bersalin IRD. Saat itu kami harus melepas sepatu-sepatu kami untuk bisa masuk kedalam ruangan. Ketika pertama kali membuka pintu hiruk pikuk manusia dengan berbagai kepentingan nampak memukau indra penglihatan saya. Ada orang-orang yang memakai jas putih, ada beberapa perempuan yang memakai topi putih dengan pakaian dan celana yang berwarna putih pula, ada ibu-ibu yang memakai  batik, ada juga beberapa ibu-ibu yang sedang berbaring di kasur yang perutnya berukuran lebih besar dari biasanya.
-
Seorang laki-laki berjas putih dengan kisaran usia tiga puluh tahunan menghampiri dan menyapa kami dengan senyum. Beliau adalah dokter yang dijuluki “lurah” di ruangan tersebut, kemungkinan besar dia adalah sosok yang bertanggung jawab dengan segala kegiatan yang ada di sana. Kami langsung dipertemukan oleh dosen yang akan mengampu kami untuk bertemu salah satu pasien di sana. Sebelum menemui pasien kami diberikan beberapa pertanyaan olehnya. Sungguh sesi ini adalah salah satu sesi yang paling mendebarkan dalam kunjungan rumah sakit kali ini.
Setelah selesai umpan mengumpan pertanyaan dan jawaban dengan dokter tersebut, tibalah masa kami untuk bertemu seseorang. Seorang perempuan paruh baya yang terbaring lemah di kasur peristirahatan dengan diselimuti sepotong kain batik coklat. Kain yang diselimutkan ke tubuh sang Ibu untuk menghangatkan diri serta menghangatkan “seseorang” lagi yang ada di dalam rahimnya. Kami pun menyapanya, dengan maksud untuk menyambung rasa dengan ibu tadi.
Setelah percakapan terasa lebih hangat dari dinginnya mesin ac di ruangan itu kami pun memberanikan diri untuk meminta izin untuk memeriksa usia dan posisi janin dalam kandungan ibu tadi, leopold nama pemeriksaan tersebut. Dengan kagok satu persatu kami mempraktekannya. Bagaimana tidak, sebelumnya kami hanya berkesempatan mempraktekan leopold pada boneka saja. Ternyata sungguh berbeda dengan keadaan aslinya.
-
Tibalah giliran saya untuk mencoba ilmu leopold yang pernah saya ketahui. Saya mulai dengan mengukur tinggi rahim bagian atas, lalu meraba tepi-tepi rahim, kemudian merasakan bagian tubuh mana yag sudah berada di bagian bawah rahim sang Ibu. Kikuk rasanya jari-jemari saya mengitari perut sang Ibu. Entah kenapa rasanya tidak seperti yang saya ketahui dalam kehamilan normal. Setelah memastikan apa yang ada di hadapan saya saat itu, kemudian saya melontarkan pertanyaan pada dokter pengampu tadi.
-
Yak ternyata, sungguh keajaiban Allah sang Maha Pemberi. Sang Ibu ternyata bukan hanya mengandung “seseorang” namun beliau akan bertemu dengan “dua orang” jagoan kecil harapan keluarga. Ini adalah salah satu pengalaman yang tak akan saya lupakan dalam menapaki jenjang ilmu kesehatan. Pertama kali me-leopold pasien hamil, langsung menemukan hal yang sangat jarang terjadi pada umumnya. Sebelum mengakhiri giliran leopold, saya mengelus “kedua” janin yang berada dalam kandungan sang Ibu seraya mengucapkan sebuah kalimat,” Adek-adek, Semoga lahir sehat dan nanti jadi dokter ya”. Sang ibu yang tadinya tebaring lunglai pun melontarkan senyum dan mengamini doa saya.
-
Dua calon bayi yang nantinya akan tumbuh memuai dan bertambah tinggi, pula berkembang menyusul kita para pemuda untuk menjadi pemuda-pemuda berikutnya. Pemuda-pemuda generasi penerus yang akan mengisi barisan yang masih belum terisi. Pemuda yang akan menjunjung etika dan moral, pemuda cerdas berakhlak mulia, pemuda yang akan memikul nama keluarga, bangsa dan negara.
-
Inilah siklus kaderisasi, siklus yang tak kan pernah berhenti. Tak akan berhenti sebelum sang Maha Tahu berfirman untuk mengakhiri.  

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar