12 April 2014: Tiga Sekawan Sanja ke Tengger bag.2

  • 0



Wuh, kenapa tidak ?! Dua bocah metropolitan itu langsung setuju bahkan wajah mereka menampakkan antusias dengan kedua mata berbinar-binar. Apalagi si Imut (Iqbal Mut) belum pernah menjejakkan kakinya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. 

Esok lusanya saya dan Imut pergi membeli tiket kereta api di Stasiun Pasar Turi, untuk keberangkatan menuju Probolinggo, destinasi pengisi waktu senggang bagi kami bertiga. 

Kami pun berangkat dari Stasiun Gubeng Lama menuju Stasiun Probolinggo dengan menumpang kereta api Logawa meski sebelum berangkat ada beberapa insiden kecil yang mampu terlewati. 

Gerbong kami berada di tengah rangkaian kereta, gerbong empat tepatnya. Ketika pertama kali masuk gerbong nampak di dekat hingga kejauhan mata seluruh baris kursi penumpang telah penuh dan sesak, pertanda ini memang benar-benar hari libur. Kami pun mencari nomor kursi kami. Kursi panjang di sisi kiri gerbong, muat untuk diduduki tiga orang. 

Di depan kami sudah duduk Ibu berkerudung ungu berusia paruh baya bersama kedua putrinya. Ia memandangi kami bertiga sedari awal kami masuk gerbong tadi.

Kami duduk di kursi tepat di depan ibu berkerudung itu. Tak selang beberapa lama kereta mulai bergerak. Karena *maaf* pantat kami bertiga lebar meski kami laki-laki, kursi yang sebegitu panjangnya terasa sempit dan sesak. Saya pun pindah dan mencari kursi lain yang masih lengang, meski sulit. Imut pun mengikuti saya, tersisa Sinyo saja di kursi original kita. 

Detik pun terus bergulir mengikuti putaran roda besi kereta api, hamparan sawah-sawah hijau yang ditanduri pelbagai macam tanaman pangan khas pribumi bergiliran nampak dari jendela kereta yang tak begitu lebar kira-kira hanya berukuran 1x0.5 m. Semakin dekat kami dengan tujuan, semakin jauh pula kami berpisah dengan tempat keberangkatan kami. Jauh-dan-semakin jauh dari hiruk pikuk nya Kota yang tak pernah tidur. 

Sekitar dua jam telah berlalu, rasa kantukku hilang dan langsung memperhatikan bangunan di luar jendela kereta. Telah dapat kami lihat gapura berwarna merah bata bertuliskan Selamat Datang di Kota Probolinggo. Selang sepuluh menit kami pun tiba di stasiun kebanggan saya, kebanggan masyarakat Kota Probolinggo, Stasiun probolinggo. 

Suara peluit dari Juru Langsir pun dibunyikan, jam tangan menunjukkan 19.10. Kami bersiap-siap dengan barang bawaan kami masing-masing. Setelah kereta benar-benar berhenti, kami pun berbondong-bondong bergabung dengan antrean para penumpang lain yang akan turun di stasiun yang sama. 

Riuh rendah suara tawaran tukang becak, angkot, hingga ojek sudah mulai terdengar. Mereka saling berebut, menggoda penumpang satu dan yang lain, menggoda kami pula, penumpang-penumpang yang habis kelelahan dalam perjalanan untuk menumpang kendaraan mereka. 

Saya mengajak mereka untuk naik angkot saja, selain cepat murah pula. Mereka berdua mengangguk dan setuju. Beruntung sopir angkot yang sedang memarkir mobil kuningnya di seberang stasiun. Kami putuskan untuk beristirahat dahulu di kediaman saya. Esoknya dini hari baru kita melanjutkan perjalanan. Perjalanan memonopoli suasana hati, perjalanan bersama tiga sekawan. 

-Bersambung lagi-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar