Wuh, kenapa tidak ?!
Dua bocah metropolitan itu langsung setuju bahkan wajah mereka menampakkan
antusias dengan kedua mata berbinar-binar. Apalagi si Imut (Iqbal Mut) belum
pernah menjejakkan kakinya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Esok lusanya saya dan
Imut pergi membeli tiket kereta api di Stasiun Pasar Turi, untuk keberangkatan
menuju Probolinggo, destinasi pengisi waktu senggang bagi kami bertiga.
Kami pun berangkat dari
Stasiun Gubeng Lama menuju Stasiun Probolinggo dengan menumpang kereta api
Logawa meski sebelum berangkat ada beberapa insiden kecil yang mampu terlewati.
Gerbong kami berada di
tengah rangkaian kereta, gerbong empat tepatnya. Ketika pertama kali masuk
gerbong nampak di dekat hingga kejauhan mata seluruh baris kursi penumpang
telah penuh dan sesak, pertanda ini memang benar-benar hari libur. Kami pun
mencari nomor kursi kami. Kursi panjang di sisi kiri gerbong, muat untuk
diduduki tiga orang.
Di depan kami sudah
duduk Ibu berkerudung ungu berusia paruh baya bersama kedua putrinya. Ia
memandangi kami bertiga sedari awal kami masuk gerbong tadi.
Kami duduk di kursi
tepat di depan ibu berkerudung itu. Tak selang beberapa lama kereta mulai
bergerak. Karena *maaf* pantat kami bertiga lebar meski kami laki-laki, kursi
yang sebegitu panjangnya terasa sempit dan sesak. Saya pun pindah dan mencari
kursi lain yang masih lengang, meski sulit. Imut pun mengikuti saya, tersisa
Sinyo saja di kursi original kita.
Detik pun terus
bergulir mengikuti putaran roda besi kereta api, hamparan sawah-sawah hijau
yang ditanduri pelbagai macam tanaman pangan khas pribumi bergiliran nampak
dari jendela kereta yang tak begitu lebar kira-kira hanya berukuran 1x0.5 m.
Semakin dekat kami dengan tujuan, semakin jauh pula kami berpisah dengan tempat
keberangkatan kami. Jauh-dan-semakin jauh dari hiruk pikuk nya Kota yang tak
pernah tidur.
Sekitar dua jam telah
berlalu, rasa kantukku hilang dan langsung memperhatikan bangunan di luar
jendela kereta. Telah dapat kami lihat gapura berwarna merah bata bertuliskan
Selamat Datang di Kota Probolinggo. Selang sepuluh menit kami pun tiba di
stasiun kebanggan saya, kebanggan masyarakat Kota Probolinggo, Stasiun
probolinggo.
Suara peluit dari Juru
Langsir pun dibunyikan, jam tangan menunjukkan 19.10. Kami bersiap-siap dengan
barang bawaan kami masing-masing. Setelah kereta benar-benar berhenti, kami pun
berbondong-bondong bergabung dengan antrean para penumpang lain yang akan turun
di stasiun yang sama.
Riuh rendah suara
tawaran tukang becak, angkot, hingga ojek sudah mulai terdengar. Mereka saling
berebut, menggoda penumpang satu dan yang lain, menggoda kami pula, penumpang-penumpang
yang habis kelelahan dalam perjalanan untuk menumpang kendaraan mereka.
Saya mengajak mereka
untuk naik angkot saja, selain cepat murah pula. Mereka berdua mengangguk dan
setuju. Beruntung sopir angkot yang sedang memarkir mobil kuningnya di seberang
stasiun. Kami putuskan untuk beristirahat dahulu di kediaman saya. Esoknya dini
hari baru kita melanjutkan perjalanan. Perjalanan memonopoli suasana hati,
perjalanan bersama tiga sekawan.
-Bersambung lagi-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar