17 Februari 2014: Kelud, Kasih tak Sampai

  • 1





Terdengar suara menggelegar, saat itu guntur sang Hyang merambat – rambat mencakar ketenangan. Guruh - gemuruh meluluh lantakkan kedamaian peradaban Jawa. Dari pelupuk mata nampak abu erupsi menari – nari mencari mangsanya. Ah itu Gunung Kelud, dalam wiracarita Babad Tanah Jawi sesungguhnya Kelud ialah simbol sebuah kisah kasih tak sampai dari seorang mahasakti namun berwajah buruk rupa. Sastra warisan turun temurun dari Mbah Nenek Moyang.
-
Kisah dimulai dari sebuah Kerajaan di Kediri. Dahulu kala Kerajaan Kediri dipimpin oleh seseorang Raja bernama Prabu Jenggala Manik. Sang Prabu hendak mencarikan menantu untuk putri kesayangannya yang aduhai cantik jelita lemah gemulai, itulah Dewi Kalisuci. Tak ayal banyak raja dan pangeran dan berbagai orang dari kalangan priyayi  pun datang melamar. Jenggala Manik bingung menentukan pilihan siapakah sosok yang pantas menemani putri cantiknya hingga akhir hayatnya kelak.
-
Sayembara pun diadakan bagi semua calon menantu yang datang melamar. Barangsiapa yang berhasil merentangkan busur sakti dari Kiai Garudayeksa dan mengangkat Gong Kyai Sekardelima, dialah lelaki terhormat yang berhak mempersunting Dewi Kalisuci yang molek itu. Namun lelaki satupun tak ada yang sanggup melakukan keduanya, tak ada yang berhasil dalam sayembara Prabu Jenggala Manik.
-
Sebelum sayembara ditutup, tiba-tiba datanglah Lembu Suro, yaitu seorang manusia tapi berwajah lembu. Aih ! Ternyata dia dengan mudahnya merentangkan busur dan mengangkat gong Kyai-kyai mahasakti tersebut.
-
Namun sang Dewi jijik jika punya pendamping hidup berwajah hewan sawah seperti itu. Dia pun mengajukan satu syarat tambahan bagi Lembu Suro untuk bisa jadi suaminya. “Buatlah sumur di Puncak Kelud dalam waktu semalam!” kata sang Dewi pada Lembu Suro.
-
Lembu Suro tak gentar menerima syarat terakhir tersebut. Nuraninya sebagai lelaki memicu semangatnya dan dia pun langsung menggali dengan dua tanduknya tanpa pikir panjang. Sang Putri mulai khawatir Lembu Suro akan berhasil. Akhirnya, Dewi Kalisuci dan ayahnya Prabu Jenggala Manik memerintahkan prajurit kerajaan untuk menimbun lelaki berwajah hewan tersebut ketika sedang asyik menggali gunung. Prajurit-prajurit pun menjatuhkan batu-batuan dan pasir dari atas sumur.
-
Huh, nasib! Lelaki malang itu pun dalam sekejap terkubur dalam timbunan bebatuan. Senang bukan kepalang yang dirasakan sang Putri dan Ayahandanya. Ketika masih dalam balutan kegembiraan itu, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dari dalam Gunung Kelud. Ternyata tak lain tak bukan bunyi itu adalah suara Lembu Suro. Suara erangan yang mengutuk Dewi Kalisuci beserta kerajaannya, “Terkutuklah kau Dewi Suci dan Kerajaan Kediri, hancurlah kalian oleh lahar dan abu Kelud bersama kemunafikan!” .
-
Masyarakat sekitar lereng masih meyakini keabsahan dari mitos tersebut dan berusaha menjaga agar Lembu Suro tidak marah. Itulah legenda asal muasal dari ritual Larung Sesaji yang dilaksanankan di lereng Gunung Kelud setiap tanggal 23 Suro.  Salah satu kisah turun temurun dari kayanya peradaban Jawa. Kisah kasih dari zaman pewayangan yang mungkin menjelma hingga saat ini, zaman modern. Sekelumit kisah kasih tak sampai yang mengharu biru. Aih, bak pungguk merindukan bulan.

1 komentar:

  1. apa daya takdir tidak mempersatukan Lembu Suro dan Dewi Kalisuci. Amat buruk hati sang Dewi Kalisuci.

    BalasHapus