4 Februari 2014: Tiga Sekawan Sanja ke Tengger bag.1

  • 0




Entah darimana sebaiknya aku memulai catatanku kali ini. 

Akhiran ujian perbaikan dari mata kuliah yang mengulang telah datang. Hasil-hasil jerih payah kami mahasiswa kedokteran airlangga dalam membaca, menulis, menghafal, berlatih, mempraktekkan telah terpampang di mading-mading yang nampak jarang digunakan untuk menempel karya, hanya pengumuman. Tercetak dalam huruf-huruf kapital dengan nama empunya nilai di sampingnya. Secara tidak syah, hari libur telah mengaung-ngaung memanggil untuk dijamah. Meski libur telah datang menyudahi pelayangan ilmu di kampus kedokteran Gubeng Surabaya, hal itu tak serta merta membawa angin segar bagi diriku seorang, entah mahasiswa yang lain. 

Setelah beberapa pelik terlewati, kini aku sangat haus akan alam, ingin rasanya berdiri di tengah hutan, ingin rasanya lebih mengenal kehidupan luar, kehidupan yang tak aku dapat dari prosesi belajar mengajar di keseharian, kehidupan dengan banyak kemungkinan. Hari libur sebelum semester lima kemarin ialah hari terakhir  aku bercengkerama dengan hutan. Bumi Semeru dengan puncaknya Mahameru kudatangi kala itu dengan adik laki-lakiku. Memang beberapa tujuan sudah terpampang dalam telenchepalon ku khususnya untuk hari libur kali ini. Terasa awang-awang pada siapa aku mencurahkan ajakanku. 

Ketika itu, secara kebetulan datang berkunjung kawan lama saat belajar di Kampus Biru, ialah dia yang sering kali datang ke asramaku, Iqbal MU. Lelaki dengan badan yang tetap tegap bekas didikan para pamong pengajar dahulu dengan usia tak jauh beda denganku meski lebih tua dia beberapa bulan. Kulitnya putih khas peranakan orang Banjar. Tinggi nya pun tak beda jauh satu meter tujuh puluh hampir sesama tinggiku. Kuajak dia untuk masuk kamarku. Kamar satu-satunya di asrama yang berada di lantai dua. Saat itu teman kamarku sedang mendapat gilirannya untuk jaga poli di RSUD.

Sedikit kikuk ia melepas sepatu sebelum masuk kamarku. Seakan sudah sepuluh tahun lamanya tidak berkunjung kemari. Iqbal berjalan di belakangku masuk kamar dan langsung duduk di atas kasurku. Tempat terbaik untukku untuk bernyaman-nyaman di Surabaya meski hanya terbuat dari selembar sponge yang mulai kempis itu di jajahi olehnya. Aku sendiri menyandarkan badanku di kursi belajarku.

Tak lama kemudian, datang seorang kawan lagi, kawan semasa SMA, sekaligus kawan ku kuliah, Yudha KL. Perawakannya tinggi, sedikit lebih tinggi dari kami berdua. Bocah Jakarta yang merantau di ranah Surabaya, kupersilahkan dia masuk pula kedalam.

Sambil kubaca Bumi Manusianya mas Pram, bergegap gemuruh lah kami dalam bilik kamar asramaku, bercengkerama dan bernostalgia, mengingat dan diingatkan tentang memori semasa kami hidup dalam satu atap yang sama, Pirikan, Magelang. 

ketika kisah-kisah memoar pun habis untuk dikenang, aku pun berceletuk, untuk mengajak mereka berdua, datang dan sanja ke gunung terdekat dari kampungku, gunung terindah di Jawa pula, mampir dan menengok kawah Bromo Tengger.

Dan mereka pun menjawab....

----Bersambung-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar