Entah darimana sebaiknya aku memulai catatanku kali ini.
Akhiran ujian perbaikan dari mata kuliah yang mengulang
telah datang. Hasil-hasil jerih payah kami mahasiswa kedokteran airlangga dalam
membaca, menulis, menghafal, berlatih, mempraktekkan telah terpampang di
mading-mading yang nampak jarang digunakan untuk menempel karya, hanya
pengumuman. Tercetak dalam huruf-huruf kapital dengan nama empunya nilai di
sampingnya. Secara tidak syah, hari libur telah mengaung-ngaung memanggil untuk
dijamah. Meski libur telah datang menyudahi pelayangan ilmu di kampus kedokteran
Gubeng Surabaya, hal itu tak serta merta membawa angin segar bagi diriku
seorang, entah mahasiswa yang lain.
Setelah beberapa pelik terlewati, kini aku sangat haus akan
alam, ingin rasanya berdiri di tengah hutan, ingin rasanya lebih mengenal
kehidupan luar, kehidupan yang tak aku dapat dari prosesi belajar mengajar di
keseharian, kehidupan dengan banyak kemungkinan. Hari libur sebelum semester
lima kemarin ialah hari terakhir aku
bercengkerama dengan hutan. Bumi Semeru dengan puncaknya Mahameru kudatangi
kala itu dengan adik laki-lakiku. Memang beberapa tujuan sudah terpampang dalam
telenchepalon ku khususnya untuk hari
libur kali ini. Terasa awang-awang pada siapa aku mencurahkan ajakanku.
Ketika itu, secara kebetulan datang berkunjung kawan lama saat
belajar di Kampus Biru, ialah dia
yang sering kali datang ke asramaku, Iqbal MU. Lelaki dengan badan yang tetap
tegap bekas didikan para pamong pengajar dahulu dengan usia tak jauh beda
denganku meski lebih tua dia beberapa bulan. Kulitnya putih khas peranakan
orang Banjar. Tinggi nya pun tak beda jauh satu meter tujuh puluh hampir sesama
tinggiku. Kuajak dia untuk masuk kamarku. Kamar satu-satunya di asrama yang
berada di lantai dua. Saat itu teman kamarku sedang mendapat gilirannya untuk
jaga poli di RSUD.
Sedikit kikuk ia melepas sepatu sebelum masuk kamarku.
Seakan sudah sepuluh tahun lamanya tidak berkunjung kemari. Iqbal berjalan di
belakangku masuk kamar dan langsung duduk di atas kasurku. Tempat terbaik
untukku untuk bernyaman-nyaman di Surabaya meski hanya terbuat dari selembar sponge yang mulai kempis itu di jajahi
olehnya. Aku sendiri menyandarkan badanku di kursi belajarku.
Tak lama kemudian, datang seorang kawan lagi, kawan semasa SMA, sekaligus kawan ku kuliah, Yudha KL. Perawakannya tinggi, sedikit lebih tinggi dari kami berdua. Bocah Jakarta yang merantau di ranah Surabaya, kupersilahkan dia masuk pula kedalam.
Sambil kubaca Bumi Manusianya mas Pram, bergegap gemuruh lah
kami dalam bilik kamar asramaku, bercengkerama dan bernostalgia, mengingat dan
diingatkan tentang memori semasa kami hidup dalam satu atap yang sama, Pirikan,
Magelang.
ketika kisah-kisah memoar pun habis untuk dikenang, aku pun
berceletuk, untuk mengajak mereka berdua, datang dan sanja ke gunung terdekat
dari kampungku, gunung terindah di Jawa pula, mampir dan menengok kawah Bromo
Tengger.
Dan mereka pun menjawab....
----Bersambung-----

Tidak ada komentar:
Posting Komentar