Dua puluh tujuh hari telah berlalu semenjak terompet
manusia-manusia bebas ditiupkan dari ujung labialis. Setiap batas, setiap
pijakan, setiap waktu konon memiliki spesifikasi khas intrik cerita
masing-masing pemeran panggung sandiwara. Kehebohan menghiasi pergantian masa.
Ucapan kasih dan doa juga tak kalah mengiringi fenomena itu. Telah bertambah
satu, angka terakhir di masehi kalender yang terpampang di pojok komputerku.
Itulah salah satu cerita tahun baru kira-kira barang empat minggu yang lalu.
-
Yang lama sudah tertinggal di belakang, dan kini saya menghadapi
layar panggung yang baru. Layar panggung penuh teka-teki, penuh lika-liku.
Bukan untuk dihindari atau disingkirkan. Namun untuk diatasi dan diselesaikan.
Maka dari itu, terciptalah resolusi-resolusi yang harus saya siapkan sebagai
fondasi perubahan.
-
Sejenak saya menyandarkan fikiran seraya beristirahat setelah
selesai menghadapi beberapa ujian akhir di semester kelima dalam menyandang
predikat sebagai mahasiswa. Dalam istirahat ini beberapa kali saya sempat
merenung, dan beberapa kali pula renungan saya terenggut untuk berfokus dalam
dunia ke”Mahasiswa”an. Dunia yang tidak hanya melulu tentang berangkat dan
pulang untuk menuntut ilmu di sebuah kelas. Jauh lebih dari itu, ini semua
mengenai sebuah “dunia titik balik”.
-
Dunia beserta isinya yang dihuni oleh berbagai macam manusia
yang terpelajar yang nantinya akan dihormati karna ilmunya. Dunia titik balik teruntuk
semua mahasiswa. Bagaikan Chandradimuka bagi kisah hidup Wisanggeni dalam
wiracarita pujangga Jawa. Mengubah dia-dia yang tadinya kosong ilmu menjadi para
pendekar modern. Punggawa-punggawa negara yang memiliki hutang jiwa pada
kemajuan bangsa ini, In-do-ne-sia.
-
Sejujurnya di semua dunia tak ada muncul pihak yang baik
jika tidak ada pihak yang jahat, tak ada muncul si Gundala jika tanpa ada si
Ghazul, tak terkecuali dunia titik balik ini. Dunia modern ialah dunia yang
sarat ilmu, orang yang lebih pandai dalam berilmu ialah orang yang lebih
dihormati. Insinyur menghormati Doktor, juga Doktor pastilah dia menghormati
Profesor.
-
Tidak sedikit mereka-mereka para mahasiswa yang menuang prestasi. Tidak
hanya di tanah ibu, bahkan Eropa Amerika telah mereka jelajahi. Dari sedemikian
itu banyak dari mereka kembali ke pertiwi mengabdikan bakti, membagikan ilmu
yang belum berakar di sini. Itulah sekiranya Gundala-Gundala yang ada di bumi
persada.
-
Namun tak menampik, tak sedikit pula mahasiswa-mahasiswa berjalan
melenceng bahkan salah masuk koridor. Terbalut dalam keseakanan. Mengenai tahta
jabatan dalam dunia ke”Mahasiswaan”. Cerita turun temurun menjadi panutan, yang
seharusnya ilmulah yang jadi pegangan. Mereka yang sadar ataupun tak sadar
menyerahkan diri untuk bermetamorfosa menjadi Ghazul di Dunia Titik Balik. Dunia
yang akan menyerahkan pemuda-pemuda godokan Chandradimukanya bagi In-do-ne-sia.
-
Aih, mahasiswa dan pemuda! Sadar dan bangkitlah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar