2 November 2013: Brokenheart Disorder

  • 0



Malam ini adalah malam minggu, sebuah malam agung bagi muda-mudi seperti biasanya. Malam yang ditunggu-tunggu bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Malam dimana jalanan penuh sesak oleh kendaraan roda dua yang nampak dua orang berboncegan berpelukan diantaranya.
Malam yang salah satunya pernah saya rasakan bersama seseorang di luar sana berkeliling sebuah kota. Mengitari Jogjakarta, saling umpan mengumpan cerita sebagai obat temu kangen lama tak berjumpa. Sebuah alur flashback yang indah, candu memori yang ingin selalu saya ulangi bersama dirinya.
Namun kini candu itu telah berhenti. Mungkin ini yang bernama efek Withdrawal Syndrome, efek yang menyebabkan sebuah Brokenheart Disorder bagi diri saya pribadi. Saya memang lelaki lemah. Kalau saja saya punya kesempatan yang sama. Yah, seandainya saja saya bisa mengatakan “jangan kau tinggalkan”.

Pernah saya berpikir untuk menikmati semua yang sedang terjadi. Ternyata sangat melelahkan harus menghadapi sebuah kenyataan sendiri, lebih tepatnya lebih sendiri tanpa ada hadirnya. Saat ini saya ragu bisa kah saya nikmati semua tanpanya.
Pikiran-pikiran kotor menghantui otak ini, marah sedih sepi bercampur menjadi satu. Menjadi sebuah adonan yang tak mungkin ada orang yang mau untuk mencicipinya, tapi itulah isi hati, pasti pernah dan akan terjadi pada setiap manusia.
Live must go on. But i still can’t stop remembering everything that i got from her. Yes, everything...
Kesempatan-kesempatan yang tak mungkin bisa dibeli ketika diri anda jatuh cinta. Merasa menjadi Raja dan Ratu dalam dunia mereka sendiri. Semua terasa istimewa. Tak terpikir besok mau makan apa. Sungguh naif bagi saya. Maaf saya belum sempat mengikutimu seharian. Maaf saya belum bisa menggandeng tanganmu seharian. Dan juga maaf saya belum bisa melihat senyummu selama yang kau mau. Semoga lelah ini hanya sementara. Semoga hari baru itu segera tiba...
Namun apadaya sampai saat ini hari baru itu tak kunjung tiba. Setiap detik hanya bisa berharap dirinya mendengar celotehan seorang yang berusaha untuk tidak munafik pada kata hatinya. Inilah sumber dari segala sumber kegelisahan yang datang silih berganti selama tiga hari ini. Ternyata long distance relationship itu tidak mudah, khususnya bagi wanita. Sebuah konklusi yang saya dapatkan akhir-akhir ini.
Ingin sekali jemari ini mengetikkan nomor telponmu dan menyakan kabarmu. Setidaknya mengirim message blackberry menyapa dan bertanya bagaimana harimu seperti halnya tak terjadi apa-apa sebelumnya. Dari sekian banyaknya opini-opini tak bertanggung jawab yang datang silih berganti itu, saya berharap satu hal.

Mungkin selain lemah saya bodoh, saya masih berharap masih ada cinta di hatinya. Rasanya ingin saya berhenti menuliskan semua omong kosong ini. Tapi ternyata tak semudah itu keinginan saya bisa terjadi di dunia kenyataan ini. Irama circadian dalam alam bawah sadar saya ternyata masih belum bisa menyesuaikan dengan keadaan yang baru-baru ini terjadi.

Belum terbiasa diri ini untuk tidak mendengar suaramu
Belum terbiasa diri ini untuk lama tidak berbincang denganmu
Belum terbiasa diri ini untuk tidak mendapat semangat darimu
Belum terbiasa diri ini untuk  tidak mendapat perhatianmu
Belum terbiasa diri ini ya masih belum terbiasa untuk ditinggalkan perempuan seindah dirimu

Seharusnya kau dengar dahulu semua yang harus kau dengarkan. Semua isi hati ini masih belum bisa tersampaikan, sungguh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar