10 Oktober 2013: Kedua kalinya

  • 0



Tepat 5 hari setelah saya datang kembali ke Jogja, tanah para Raja. Teringat kenangan manis ketika saya datang untuk kedua kalinya menemui sang pujaan hati. Momentum kali itu hanya untuk merayakan ulang tahunnya yang sudah menginjak usia 20.

Ya dia memang lebih “dewasa” secara umur, namun hanya beberapa bulan saja dibanding saya. Saat tiba di stasiun Lempuyangan ternyata saya bertemu rekan sejawat saya yang dalam tanda kutip memiliki tujuan yang sama dengan saya, menengok sang kekasih.
Si Nyai memang menjemput saya agak telat, tapi garis senyum diwajahnya menjadi obat kangen yang sudah tergolong akut ini. Bagaimana tidak ? Kami sebelumnya hanya bertemu beberapa kali, dan dengan tabah hanya berkomunikasi lewat telpon dan bbm. Di telpon pun hanya saat malam minggu atau jika kami benar2 tidak ada tugas.
Yah. Perjalanan tanggal 5 dan 6 Oktober di Jogjakarta saya mulai dengan membonceng “bidadari psikologi” dari UGM. Kebetulan saat itu saya belum membeli tiket untuk kepulangan, jadi kami mampir ke indomaret untuk membeli tiket Logawa. Antri di Lempuyangan kala itu adalah pilihan yang buruk.

Setelah itu kami mencari alamat rekan saya untuk tempat menginap nanti malam. Kesempatan menginap itu saya dapatkan dengan dramatisir. Dia adalah orang ketiga yang saya minta tolong. Ketika itu Si Nyai mungkin sangat iba, saya datang jauh-jauh hanya 2 hari satu malam dan meginap di Masjid? Untung ada Aldo, mas Ketua BEM FEB UGM yang bersedia melapangkan kasurnya untuk ditiduri oleh saya.Jujur, saya adalah tukang lindur yang buruk.
Tepat malam itu adalah malam minggu. Sebuah malam yang agung untuk muda-mudi bertemu dengan pasangannya. Termasuk kami berdua tentunya. Nyai mengajak saya ke sebuah Warung terkenal di Jogja bernama House of Raminten.

Di sana kami berbincang berbagai hal. Hal-hal yang kami alami di tempat kami berada masing-masing. Hal-hal yang secara terpaksa tidak bisa kami alami bersama. Hal-hal yang terpisahkan oleh kejauhan. Semua perbincangan itu terasa syahdu seperti zat opioid yang selalu ingin dinikmati. Kata-kata rindu tak luput terlontar dari mulut kami berdua. Saling melempar senyum dan tawa yang tak bisa kami rasakan sehari-hari berdua. Yang hanya bisa kami dengar lewat telpon. Yang hanya bisa tertulis lewat pesan singkat di bbm.

Rindu itu bak zat aditif pada diri saya, sedikitnya satu orang di luar sana pasti sepakat dengan apa yang saya rasakan. Selalu mengganggu setiap detik menit jam setiap hari jika tak bertemu. Saat ini saya masih diberi kesabaran juga ketabahan untuk menghadapinya, dan Semoga Ketabahan itu akan selalu menghiasi hari-hari saya di Surabaya, juga hari-harinya di Jogjakarta. Semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar