Catatan ini tertulis secara empiris dan tidak utuh selama saya menjalani hidup saya sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Dua tahun yang lalu saya hanyalah seorang pemuda yang ingin menggantungkan nasib saya sebagai seorang dokter masa depan. Entah itu menjadi dokter umum, dokter spesialis, dokter instansi pemerintah, atau bahkan ilmuwan yang berangkat dari sekolah kedokteran. Namun pasti jelas, dokter, itu yang terbenam dalam jiwa saya.
#
Banyak hal yang saya anggap tidak mungkin dan juga pasti hal itu dirasakan oleh
orang sekitar saya. Saya bersekolah di sebuah sekolah menengah atas yang
katanya sekolah terbaik di Indonesia, hanya kabar burung, tak pasti dalam
kriteria apa mereka melabel sekolah saya. Di sana saya bukanlah yang terbaik.
Di sana saya juga bukan tercerdas. Saya mendapatkan ilmu tentang paham
nasionalis yang kebanyakan di sekolah sejajar umumnya belum dapatkan. Yah
mungkin hanya itu satu kelebihan yang sekolah saya miliki, selain berasrama.
#
Cita-cita saya sebagai dokter juga hampir kandas di sana. Pernah terbesit dalam
benak saya untuk menjadi seorang Perwira pengabdi negara. Pernah pula
berkeinginan untuk menjadi seorang ahli tambang dan minyak. Itu semua saya
pikirkan untuk membenahi keuangan keluarga saya.
#
Namun ada satu alasan lain
mengapa di detik-detik akhir saya menjatuhan pilihan saya pada program studi
pendidikan dokter. Alasan itu pula yang
menepis opini-opini tak bertanggung jawab yang masuk dalam pikiran saya kala
itu. Mau jadi apa dokter kalau orang tuamu bukan dokter. Dokter itu sekolahnya
mahal. Dokter itu banyak resikonya. Dokter itu sekolahnya lama. Dokter itu dan
lain sebagainya. Banyak opini-opini negatif tentang dunia pendidikan kedokteran
saya dapatkan.
#
Saya hanyalah seorang anak desa yang makin tertantang jika
lingkungan mendesak eksistensi saya. Sesuai dengan naluri seorang manusia
mengenai need of achievement, keberadaan saya akan lebih berarti jika saya
mampu menggapai pencapaian-pencapaian tertentu. Tibalah ujian SNMPTN
2011(Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
#
SNMPTN tahun itu menjadi
berbeda ketika Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh, yang lulusan ITS itu
menjadikan SNMPTN menjadi dua sistem. Sistem Undangan dan Sistem Ujian.
#
Pertama
dilaksanakan ialah sistem undangan. Pada kesempatan pertama itu saya memilih Kedokteran
UGM. Dan tentu seperti yang saya perkirakan dan mungkin lingkungan saya juga
berpikir demikian, saya gagal. Nilai saya mungkin standar. Namun jiwa berontak
saya membesar. Apa mereka melihat gaji ayah saya yang seorang pegawai negeri.
Apa mereka meragukan keluarga saya untuk bisa membayar biaya semester. Entah,
hal itu masih menjadi tanda tanya besar bagi diri saya sendiri.
#
Memang ketika
saya melihat biaya kuliah disana sangat mahal khususnya dari jalur undangan.
Nerimo,
sikap tersebut yang saya aplikasikan untuk melangsungkan idealisme dalam semangat belajar saya. Jika saya berhenti di sana, perasaan terpuruk dan serba salah serta menyesal yang akan terus menghantui saya. Ujian Nasional sudah dilewati, satu bulan kedepan setelah ujian nasional adalah waktu-waktu yang sangat menentukan, saya bisa lanjut kuliah atau tidak.
sikap tersebut yang saya aplikasikan untuk melangsungkan idealisme dalam semangat belajar saya. Jika saya berhenti di sana, perasaan terpuruk dan serba salah serta menyesal yang akan terus menghantui saya. Ujian Nasional sudah dilewati, satu bulan kedepan setelah ujian nasional adalah waktu-waktu yang sangat menentukan, saya bisa lanjut kuliah atau tidak.
#
Langsung saya bergegas
memutar otak, apa yang harus saya lakukan. Dan kebetulan teman saya dari
Bangkalan Madura yang bernama Amir mengajak untuk mengikuti Bimbel di Sidoarjo.
Langsung kami menghubungi rekan kami yang memiliki tempat tinggal di Sidoarjo, dia
bernama Harding. Kami bertiga bersama berikhtiar dengan mengikuti les di Jenggolo, Sidoarjo, tepat berada di sisi selatan jalan layang.
#
Di rumah Harding saya dan Amir bak keluarga jauh, sebegitu hangatnya
sambutan keluarganya pada kami yang sebelumnya belum pernah mengenal
keluarganya. Tiap pagi hingga sore kami menuntut ilmu tambahan di Bimbel
jenggolo tepat di depan Smasa Sidoarjo dengan dipisahkan jalan layang yang
megah hasil pembangunan negeri ini. Mobil motor berlalu lalang, menandakan
waktu terus bergulir, hingga di pertengahan masa penantian, ada kabar gembira
bagi kedua teman saya, sekaligus kabar yang menyedihkan bagi saya sendiri.
#
Harding mendapatkan impiannya untuk bersekolah hukum di UGM Jogja. Amir juga
diterima di ekonomi pembangunan IPB Bogor. Dan saya hanya duduk termenung
seraya melontarkan senyum gembira sekaligus legit akan berita tersebut. Namun hati ini masih
terasa janggal dan sangat terpukul karena otomotatis saya hanya sendiri dalam
meneruskan perjuangan untuk mengikuti SNMPTN tulis akhir bulan nanti.
#
Sempat diri ini terbawa euforia sesaat dari mereka yang
sudah diterima, namun ketika malam hari
itu saya teringat dan sadar bahwa cita-cita saya masih belum nampak jua. Masih
jauh dan harus melalui jalan-jalan yang terjal. Esoknya, irama hidup saya kembalikan ke jalan yang
lurus. Saya membuka catatan dan membuka lagi. Saya baca diktat dan membaca
lagi. Yah anda boleh tertawa karena ketika itu saya lebih banyak menengok ke
televisi dengan penyiar fitri tropica di Indosiar pagi hari.
#
Bimbingan belajar pun habis masanya, pertanda kami bertiga
akan berpisah satu sama lain. Keluarga Harding yang sangat hangat pun akan saya
tinggalkan. Saya masih ingat pesan dari ayahnya bahwa setelah minum di warung
atau restoran kita harus melipat-lipat sedotan hingga perkiraan tak bisa
dipakai lagi. Entah untuk alasan apa,
tapi saat sampai ini pun masih saya lakukan rutin nasehat aneh itu ketika saya
makan di warung-warung. Dan sekarang saya sudah tahu jawabannya.
#
Sedikit ceritera di rumah Harding, membawa bekas yang tak akan bisa
terhapus di ingatan. Memoar kenangan yang saya dapat dari seluruh
anggota keluarga Harding, termasuk Harding sendiri dan tentunya juga
Amir mengharu birukan kisah perjalanan kehidupan retoris saya. Serpihan
kisah yang bakal menjadi lilin-lilin kecil penerang jalan panjang yang
sudah dan akan saya lalui. Menemani lilin-lilin kecil penuntun lain,
agamaku, petuah orang-orang di sekitarku, entah apalagi yang lain.
#
Itulah barang sedikit celoteh gundah dan gelisah seorang pemuda. Di
depan saya masih ada lintasan panjang, samar-samar terlihat banyak
kelokan, namun belum nampak garis finish yang membebaskan. Kekinian
ialah kita dengan menghadapi banyak ambiguitas. Disitulah kita akan
terus bingung dan bertanya maka disitu pula lah kita akan terus berpikir
dan berupaya.
###
Pembuka belumlah ditutup, inilah awal dari segala permulaan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar