8 September 2013: Rasa Penasaran

  • 0


Hari ini berputar seperti biasa, tidak ada yang spesial dengan apa yang terjadi di hari minggu ini. Tepat malam sebelum hari kuliah pertama semester lima akan dimulai, rencana akan saya telepon idaman hati saya yang ketika saya tulis catatan ini sedang berada di kosnya, Jogja tepatnya di Jalan Kaliurang.

Sudah dua belas hari kemarin saya menjalin hubungan yang lebih dari teman bersosial media dengan dirinya. Tanggal 25 Agustus kemarin saya memenuhi rasa penasaran saya akan keberadaan dirinya. Memberanikan diri untuk datang ke jogja tempat dirinya menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit, saya lakukan hanya untuk bercakap-cakap. Dengan berbincang dan bertukar pikiran dengannya saya dapat mengetahui bagaimana kepribadiannya, tingkah lakunya, kehidupannya, semuanya, yang sangat unik untuk saya pahami.

Dia seorang anak metropolitan yang berasal dari Jakarta. Jauh dari latar belakang saya yang dilahirkan di sebuah kota kecil di timur pulau jawa dimana Gunung terindah di Indonesia berada.Keinginan saya untuk lebih mengenalnya lebih dekat tidak mampu terbendung dengan perbedaan latar belakang yang kami miliki. Kami berada jauh di dua ujung pulau Jawa. Ia bekasi, saya Probolinggo.

Besok adalah hari pertama kuliah di semester 5. Semester ini saya kembali dengan teman-teman seangkatan saya. Angkatan 2011 yang berklausa Aberdiksi, Angkatan berjiwa mulia cerdik dan apalah itu hanya sebuah akronim. Memang saya tidak jago dalam menghafal sebuah kata, nama orang, tempat, dan sebagainya. Setelah enam bulan lalu saya habiskan waktu menuntut ilmu saya untuk mengulang bersama junior satu tahun di bawah saya seharusnya, kali ini saya harus belajar bersama rekan-rekan saya kembali. Semester ini saya akan mempelajari Farmakologi, Patologi Anatomi, PPGD GELS 2, dsb.

Entah dalam catatan ini saya sebenarnya ingin menuliskan kata-kata optimisme melankolis yang saya tujukan untuk saya sendiri, untuk mengobarkan semangat belaar saya bertahun-tahun kedepan. Namun kata-kata optimisme itu bisa jadi berubah bak buah simalakam yang menelan tuannya sendiri.

Sering saya lakukan hal-hal memotivasi manusia-manusia di hadapan saya, tapi seringkali pula saya tidak mampu mendorong semangat saya sendiri, bahkan saya seringkali terjatuh sendiri. Saya sendiri masih bingung apa hal tersebut hanya terjadi pada saya sendiri atau mungkin ada segelintir orang yang bernasib sama dengan saya, semua itu hanya tuhan yang tahu.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar