11 September 2013: Neoplasma itu bernama Demokrasi ?

  • 0



Hari ini kelam tak seperti kemarin. Berita pagi  yang terpapar dalam halaman depan harian Jawa Pos mengisyaratkan ancaman bagi keamanan negeri ini. Bripka Sukardi meninggal dengan 3 luka tembak bersarang di tubuhnya. Pembununhnya entah siapa 2 orang hingga 4 orang dari sumber berita lainnya. Teror demi teror berdatangan ke tubuh Kepolisian Republik Indonesia, simbol keamanan bagi masyarakat Indonesia. Setelah beberapa kasus penembakan polisi terjadi  beberapa minggu yang lalu, muncul lagi kasus ini, kasus yang membelalakkan mata semua masyarakat yang masih sadar serta non apatis di negeri ini.

Apa penyebab kejadian ini? Mengapa polisi zaman sekarang sampai diteror oleh masyarakat umum atau  bisa dikatakan teroris? Kenapa masyarakat umum sampai berani meneror anggota kepolisian? Pergi kemanakah taji dan wibawa polisi era ini? Kapan hukum rimba ini berakhir? Intinya apa sumber bencana dan masalah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini?
Kuliah Prof. Taat pagi tadi sayup-sayup dapat saya terima. Rasa kantuk di pagi hari menemani fakta-fakta yang telah diungkapkan beliau tentang bobroknya “sistem” di Indonesia sebagai pengantar kuliah patofisiologi yang akan beliau sampaikan. Entah sistem yang mana yang beliau maksudkan.

Semua masalah  bermuara pada demokrasi katanya. Tepatnya Demokrasi Liberal yang kian lama berproliferasi di tatanan pemerintahan dan kultur budaya kita bangsa Indonesia.

Bak neoplasma, demokrasi liberal merusak filsafat luhur bangsa Indonesia.

Berkembang, berkembang, dan berkembang hingga menjadi suatu sel kanker yang menahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar