Hari ini kelam tak seperti kemarin. Berita pagi yang terpapar dalam halaman depan harian Jawa
Pos mengisyaratkan ancaman bagi keamanan negeri ini. Bripka Sukardi meninggal
dengan 3 luka tembak bersarang di tubuhnya. Pembununhnya entah siapa 2 orang
hingga 4 orang dari sumber berita lainnya. Teror demi teror berdatangan ke
tubuh Kepolisian Republik Indonesia, simbol keamanan bagi masyarakat Indonesia.
Setelah beberapa kasus penembakan polisi terjadi beberapa minggu yang lalu, muncul lagi kasus
ini, kasus yang membelalakkan mata semua masyarakat yang masih sadar serta non
apatis di negeri ini.
Apa penyebab kejadian ini? Mengapa polisi zaman sekarang sampai diteror oleh masyarakat umum atau bisa dikatakan teroris? Kenapa masyarakat umum sampai berani meneror anggota kepolisian? Pergi kemanakah taji dan wibawa polisi era ini? Kapan hukum rimba ini berakhir? Intinya apa sumber bencana dan masalah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini?
Apa penyebab kejadian ini? Mengapa polisi zaman sekarang sampai diteror oleh masyarakat umum atau bisa dikatakan teroris? Kenapa masyarakat umum sampai berani meneror anggota kepolisian? Pergi kemanakah taji dan wibawa polisi era ini? Kapan hukum rimba ini berakhir? Intinya apa sumber bencana dan masalah yang sedang terjadi di Indonesia saat ini?
Kuliah Prof. Taat pagi tadi sayup-sayup dapat saya terima.
Rasa kantuk di pagi hari menemani fakta-fakta yang telah diungkapkan beliau
tentang bobroknya “sistem” di Indonesia sebagai pengantar kuliah patofisiologi
yang akan beliau sampaikan. Entah sistem yang mana yang beliau maksudkan.
Semua masalah bermuara pada demokrasi katanya. Tepatnya Demokrasi Liberal yang kian lama berproliferasi di tatanan pemerintahan dan kultur budaya kita bangsa Indonesia.
Bak neoplasma, demokrasi liberal merusak filsafat luhur bangsa Indonesia.
Berkembang, berkembang, dan berkembang hingga menjadi suatu sel kanker yang menahun.
Semua masalah bermuara pada demokrasi katanya. Tepatnya Demokrasi Liberal yang kian lama berproliferasi di tatanan pemerintahan dan kultur budaya kita bangsa Indonesia.
Bak neoplasma, demokrasi liberal merusak filsafat luhur bangsa Indonesia.
Berkembang, berkembang, dan berkembang hingga menjadi suatu sel kanker yang menahun.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar