Dulu, gaya bertutur, gaya menulis sangatlah santun dalam
masanya. Banyak karya penulisan terbalut dalam untaian kasusastraan punggawa Angkatan-angkatan lama, Angkatan '45, angkatan '66, dan lain sebagainya. Kini kiblat penulisan telah jauh berubah. Seiring mengikuti tren
pemuda penuturan-penuturan berganti dengan gaya santai yang penuh humor banyak
beredar di masyarakat. Dari satu keadaan ini sangatlah jelas bahwa sampai saat
ini pemuda memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Entah itu
peranan positif atau pun bisa negatif.
-
Banyak tetua-tetua yang dalam hal ini orang-orang
di sekitar saya yang lebih dulu lahir ke dunia ini ketimbang saya menganggap
kehidupan mereka dahulu lebih ekslusif, lebih terdidik, yang jelas lebih lebih
yang semua baik adanya itu hadir dalam kehidupan mereka dahulu.
-
Banyak kita
temukan, menurut saya pasti kita temukan di setiap kita hadir dalam suatu
perkumpulan entah itu sekolah, organisasi, profesi dan lain sebagainya, para
tetua itu tadi sarkastik akan keadaan pemuda-pemuda saat ini. Pendapat saya
dikuatkan dengan kejadian yang terjadi dalam grup facebook sma saya. Dimana
senior-senior yang di sekolah saya dipanggil dengan abang bagi pria dan kakak
bagi wanita sangat tidak puas dengan keadaan pemuda-pemuda baru yang hadir
mengisi bangku sekolah saya.
-
Entah itu ketidakpuasan yang sangat subjektif dan
bahkan tidak sedikit pula yang objektif karena terdapat presentase-presentase
yang saya anggap imajiner. Ketika saya menulis ini banyak perasaan kalang kabut
dalam pikiran saya. Takut, mungkin itu sebutan yang cocok ketika saya menulis
hal ini dalam catatan saya. Konflik dingin antara tetua dan pemuda ini telah
kita tahu dan rasakan sejak dulu bahkan beberapa hari sebelum proklamasi
kemerdekaan. Dan tak perlu lagi saya tuliskan dalam catatan saya ini, karena
ini bukan catatan sejarah.
-
Satu demi satu pertanyaan yang tidak terjawab muncul
setelah saya merasakan beberapa kejadian serupa. Mengapa tetua-tetua yang dulu
pernah muda pula itu tidak malah menyokong, tidak malah membimbing, tidak malah
menuntun kita pemuda untuk berada di jalan yang pernah mereka lewati. Mungkin
setelah membaca ini kalian terheran-heran dan kaget. Aih sudahlah, bisa jadi itu pula kata yang terlontar
dalam benak kalian.
-
Ya memang sudah dan itu paling banyak dilakukan ketika
dalam suatu acara keformalitasan. Yang ujung-ujungnya pasti berakhir dengan
kata uang saat ini. Kalian malah terlalu asyik mencemooh, terlalu asyik menggerutu
ketika apa yang kami pemuda-pemuda lakukan tidak sesuai jalan pemikiran kalian.
-
Hei sadar kita (tetua dan pemuda) bukan hidup di jaman belanda, orde lama,
bahkan orde baru. Kalimat-kalimat keinginan tidak perlu saya tuliskan dalam
catatan saya. Kalianlah yang harus menemukan jawaban tentang keadaan ini.
Bagaimana jika keadaan ini berlangsung terus-terusan. Bagaimana generasi
mendatang yang saat ini mungkin masih berada di bangku sd, tk bahkan masih
dalam kandungan. Alur Kaderisasi sangat diperlukan bagi Indonesia. Salam
pemuda!
-
Saya tidak ingin menggurui, simak dan perhatikan saja
bagaimana saya menjalani hidup. Jika ada suatu nilai yang bisa anda terapkan
dalam hidup anda, kenapa tidak, saya muslim dan saya pemuda.
---


Tidak ada komentar:
Posting Komentar