1 September 2013: Pemuda Punya Cerita

  • 0

Dulu, gaya bertutur, gaya menulis sangatlah santun dalam masanya. Banyak karya penulisan terbalut dalam untaian kasusastraan punggawa Angkatan-angkatan lama, Angkatan '45, angkatan '66, dan lain sebagainya. Kini kiblat penulisan telah jauh berubah. Seiring mengikuti tren pemuda penuturan-penuturan berganti dengan gaya santai yang penuh humor banyak beredar di masyarakat. Dari satu keadaan ini sangatlah jelas bahwa sampai saat ini pemuda memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Entah itu peranan positif atau pun bisa negatif.
-
Banyak tetua-tetua yang dalam hal ini orang-orang di sekitar saya yang lebih dulu lahir ke dunia ini ketimbang saya menganggap kehidupan mereka dahulu lebih ekslusif, lebih terdidik, yang jelas lebih lebih yang semua baik adanya itu hadir dalam kehidupan mereka dahulu.
-
Banyak kita temukan, menurut saya pasti kita temukan di setiap kita hadir dalam suatu perkumpulan entah itu sekolah, organisasi, profesi dan lain sebagainya, para tetua itu tadi sarkastik akan keadaan pemuda-pemuda saat ini. Pendapat saya dikuatkan dengan kejadian yang terjadi dalam grup facebook sma saya. Dimana senior-senior yang di sekolah saya dipanggil dengan abang bagi pria dan kakak bagi wanita sangat tidak puas dengan keadaan pemuda-pemuda baru yang hadir mengisi bangku sekolah saya.
-
Entah itu ketidakpuasan yang sangat subjektif dan bahkan tidak sedikit pula yang objektif karena terdapat presentase-presentase yang saya anggap imajiner. Ketika saya menulis ini banyak perasaan kalang kabut dalam pikiran saya. Takut, mungkin itu sebutan yang cocok ketika saya menulis hal ini dalam catatan saya. Konflik dingin antara tetua dan pemuda ini telah kita tahu dan rasakan sejak dulu bahkan beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan. Dan tak perlu lagi saya tuliskan dalam catatan saya ini, karena ini bukan catatan sejarah.
-
Satu demi satu pertanyaan yang tidak terjawab muncul setelah saya merasakan beberapa kejadian serupa. Mengapa tetua-tetua yang dulu pernah muda pula itu tidak malah menyokong, tidak malah membimbing, tidak malah menuntun kita pemuda untuk berada di jalan yang pernah mereka lewati. Mungkin setelah membaca ini kalian terheran-heran dan kaget. Aih sudahlah, bisa jadi itu pula kata yang terlontar dalam benak kalian.
-
Ya memang sudah dan itu paling banyak dilakukan ketika dalam suatu acara keformalitasan. Yang ujung-ujungnya pasti berakhir dengan kata uang saat ini. Kalian malah terlalu asyik mencemooh, terlalu asyik menggerutu ketika apa yang kami pemuda-pemuda lakukan tidak sesuai jalan pemikiran kalian.
-
Hei sadar kita (tetua dan pemuda) bukan hidup di jaman belanda, orde lama, bahkan orde baru. Kalimat-kalimat keinginan tidak perlu saya tuliskan dalam catatan saya. Kalianlah yang harus menemukan jawaban tentang keadaan ini. Bagaimana jika keadaan ini berlangsung terus-terusan. Bagaimana generasi mendatang yang saat ini mungkin masih berada di bangku sd, tk bahkan masih dalam kandungan. Alur Kaderisasi sangat diperlukan bagi Indonesia. Salam pemuda!
-
Saya tidak ingin menggurui, simak dan perhatikan saja bagaimana saya menjalani hidup. Jika ada suatu nilai yang bisa anda terapkan dalam hidup anda, kenapa tidak, saya muslim dan saya pemuda.

---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar